MI SURIANAGARA
Danger is Real, Fear is a Choice
!-end>!-local>
Jumat, 03 Juni 2016
Senin, 08 Desember 2014
NGABOLANG ala Baroedak Surianagara
Rekel si Pendekar CEKER
Brother n Sister nuju Anom...hahaa @TONJONG
TRIO PENDEKAR
(Danank, Arai & Gubel)
Ngaliwet Bareng Baroedak BSC
Gubel vs Danank
Mr. Rawink @PANJALU CIAMIS
Sabtu, 24 Mei 2014
Soca Nu Nyarita
aya nu benten,,,,
dina tetep sieup anjeun
dina giler soca anjeun
dina imut na anjeun
saolah mere isyarat
yen ajeun miboga rasa nu sarua
rasa mikaheman, mikadeudeuh jeng mikanyaah
meski teu kecap ku ilat
meski teu kedal ku lisan
tapi bisa kabaca dina teteup sareng imut salira,,,
dina tetep sieup anjeun
dina giler soca anjeun
dina imut na anjeun
saolah mere isyarat
yen ajeun miboga rasa nu sarua
rasa mikaheman, mikadeudeuh jeng mikanyaah
meski teu kecap ku ilat
meski teu kedal ku lisan
tapi bisa kabaca dina teteup sareng imut salira,,,
soca nu nyarita,,
sanajan satekah polah di sumput-sumput
sanajan satekah polah di sumput-sumput
moal bisa ngabohongan diri,,,
Sah-kah Shalat di Belakang Imam Yang Bacaannya Tidak Sesuai Dengan Tajwid…?
Sah-kah Shalat di Belakang Imam Yang Bacaannya Tidak
Sesuai Dengan Tajwid…?
Ketika shalat di masjid di depan rumah, cukup heran juga aku menjumpai
orang baru yang menjadi imam dalam shalat isya’. Ternyata belakangan diketahui
imam utama masjid di depan rumah sedang sakit sehingga digantikan oleh seorang
pendatang. Entah karena usia bapak tersebut sudah tua atau karena memang pada
dasarnya bacaan al qur’annya tidak bagus, seringkali salah dalam pengucapan
kalimat dalam Al Fatihah maupun dalam surat yang lain. Maka terhadap yang
demikian, sah-kah shalat di belakang Imam tsb…?
Demikian kutipannya:
Tanya : Ada seorang imam yang suka bertalhin (tidak sesuai dengan ilmu
tajwid) dalam bacaan Al-Qur’an dan terkadang menambah dan mengurangi
huruf-huruf ayat Al-Qur’an. Apa hukum shalat bermakmum kepadanya ?
Jawab : Menjawab pertanyaan ini, akan kami nukilkan jawaban Syaikh
Abdulaziz bin Baaz rahimahullah (mantan mufti Saudi Arabia) dalam Fatawa Ibnu
Baaz – Kitab Ad-Da’wah – 1/57, sebagai berikut :
“Bila lahn-nya tidak merubah makna (ayat), maka tidak apa-apa shalat dengan
bermakmum kepadanya. Seperti me-nashab-kan kata Rabb [menjadi Rabba = رَبَّ]
atau me-rafa’-kannya [menjadi Rabbu = رَبُّ] di dalam Alhamdulillaahi
rabbil-‘aalamiin [الْحَمْدُ للّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ]. Begitu pula jika
menashabkan Ar-Rahman [menjadi Ar-Rahmaana = الرّحْمـَنَ] atau merafa’kannya
[menjadi Ar-Rahmaanu = الرّحْمـَنُ] dalam ayat Ar-Rahmaanir-Rahiim [الرّحْمـَنِ
الرّحِيمِ]. Dan lain-lain.
Adapun bila menyebabkan perubahan makna, maka tidak (boleh) shalat
bermakmum dengannya jika orang tersebut tidak mengambil manfaat dengan belajar
atau diberi tahu (bacaan salahnya) seperti membaca Iyyaaka na’budu dengan kaf
dikasrah [yaitu menjadi Iyyaki na’budu : إِيّاكِ نَعْبُدُ] dan seperti membaca
an’amta [أَنْعَمْتَ] dengan kasrah [menjadi an’amti = أَنْعَمْتِ] atau
di-dlammah huruf ta’-nya [menjadi an’amtu = أَنْعَمْتُ].
Bila dia menerima arahan dan memperbaiki bacaannya dengan cara diberitahu
oleh makmum, maka shalat dan bacaannya itu sah.
Yang jelas, setiap muslim dalam semua keadaan disyari’atkan mengajari saudaranya, baik dalam shalat atau di luar shalat, karena seorang muslim merupakan saudara muslim lainnya. Dia mengarahkannya bila salah dan mengajarinya bila bodoh dan membetulkan bacaannya bila terjadi kekeliruan. [selesai perkataan Syaikh Bin Baaz rahimahullah].
Yang jelas, setiap muslim dalam semua keadaan disyari’atkan mengajari saudaranya, baik dalam shalat atau di luar shalat, karena seorang muslim merupakan saudara muslim lainnya. Dia mengarahkannya bila salah dan mengajarinya bila bodoh dan membetulkan bacaannya bila terjadi kekeliruan. [selesai perkataan Syaikh Bin Baaz rahimahullah].
Perubahan makna yang dimaksud oleh Syaikh Bin Baaz di atas adalah :
– إِيّاكَ نَعْبُدُ وإِيّاكَ نَسْتَعِينُ (Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin) = “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”.
– Menjadi salah dan haram jika dibaca إِيّاكِ نَعْبُدُ وإِيّاكَ نَسْتَعِينُ (Iyyaaki na’budu wa iyyaaki nasta’iin). Hal tersebut dikarenakan terjadi perubahan makna bahwa yang kita sembah dan mohon pertolongan bukanlah Allah.
– إِيّاكَ نَعْبُدُ وإِيّاكَ نَسْتَعِينُ (Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin) = “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”.
– Menjadi salah dan haram jika dibaca إِيّاكِ نَعْبُدُ وإِيّاكَ نَسْتَعِينُ (Iyyaaki na’budu wa iyyaaki nasta’iin). Hal tersebut dikarenakan terjadi perubahan makna bahwa yang kita sembah dan mohon pertolongan bukanlah Allah.
Contoh lain :
QS. Al-Kaafiruun (2) : Laa a’budu maa ta’buduun [لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ] = “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. Hal itu menjadi salah (fatal) jika Lam-nya tidak dibaca mad (panjang) menjadi : La-a’budu maa ta’buduun [لأَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ]; karena artinya menjadi : “Aku sungguh/benar-benar akan menyembah apa yang kamu sembah”.……
QS. Al-Kaafiruun (2) : Laa a’budu maa ta’buduun [لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ] = “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. Hal itu menjadi salah (fatal) jika Lam-nya tidak dibaca mad (panjang) menjadi : La-a’budu maa ta’buduun [لأَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ]; karena artinya menjadi : “Aku sungguh/benar-benar akan menyembah apa yang kamu sembah”.……
Wallahua’lam, semoga sedikit kutipan tersebut bermanfaat untuk semua...
Jumat, 23 Mei 2014
::Salam Putih untuk Sang Pemimpin::
salam ta'zim
dariku rakyat jelata
mewakili suara angin, suara ombak
suara pasir, suara debu
suara jalanan dan suara kegersangan
ku kirimkan selembar layang putih
pada selendang alam yang terhampar pada mega mega
tertulis di luas cakrawala
membentang antara utara dan selatan
berharap dapat kau baca tiap pagi dan senja
pada cuaca dan atmosfir yang menyelubunginya
salam ta'zim dariku rakyat jelata
salam penuh cinta putih
salam kasih sayang putih
salam perdamaian putih
salam sejahtera putih
salam keadilan putih
salam jajaran kabinet putih
salam pada semua pemimpin putih
salam berbalut kasih putih
biarkan salam ini menari pada langitmu
menyuarakan dendang cinta dan mengharap semua putih
pada hati!
pada lisan!
pada pandangan!
pada pendengaran!
pada rasa!
pada hati!
pada nurani!
untukmu para pemimpin yang putih!!!
suara pasir, suara debu
suara jalanan dan suara kegersangan
ku kirimkan selembar layang putih
pada selendang alam yang terhampar pada mega mega
tertulis di luas cakrawala
membentang antara utara dan selatan
berharap dapat kau baca tiap pagi dan senja
pada cuaca dan atmosfir yang menyelubunginya
salam ta'zim dariku rakyat jelata
salam penuh cinta putih
salam kasih sayang putih
salam perdamaian putih
salam sejahtera putih
salam keadilan putih
salam jajaran kabinet putih
salam pada semua pemimpin putih
salam berbalut kasih putih
biarkan salam ini menari pada langitmu
menyuarakan dendang cinta dan mengharap semua putih
pada hati!
pada lisan!
pada pandangan!
pada pendengaran!
pada rasa!
pada hati!
pada nurani!
untukmu para pemimpin yang putih!!!
~Moch's~
Langganan:
Postingan (Atom)








